Wayang kulit di acara pernikahan keluarga kadus dayat
Kampung Bojong Desa Satria Jaya kecamatan Tambun Utara kabupaten Bekasi, masyarakat Betawi asli yang masih menjaga tradisi adat  leluhur mereka, di mana pola hidup dan cara berfikir pun masih tradisional namun menjunjung tinggi sifat kegotong royongan serta ramah dan terbuka kepada masyarakat pendatang selama tradisi mereka tidak di kritisi atau di larang oleh orang orang yang membawa pola hidup modern baik itu gaya hidup atau agama sekalipun.




Diantara tradisi yang begitu mengakar kuat sehingga masih menjadi alat pemersatu serta simbol sosial di wilayah kampung bojong adalah kesenian wayang kulit khas Tambun .
Pagelaran wayang kulit Betawi Tambun ini menjadi wajib di adakan apabila salah satu tokoh masyarakat seperti kadus, kades, mandor atau pun masyarakat biasa mengadakan syukuran atau acara hajatan seperti nikahan dan sunnat .

Wayang kulit Tambun  punya banyak kemiripan dengan wayang kulit Jawa, perbedaan yang mencolok hanya bahasa dan musik pengiringnya, sedangkan anak-anak wayangnya nyaris serupa. Jika irama pengiring wayang Jawa didominanasi gambang, di Betawi gambang hanya pelengkap. Suara terompet perang lebih dominan.

Sedangkan kisah yang diangkat dalam pewayangan Betawi tak ubah wayang Jawa, diambil dari cerita Mahabrata dan Ramayana. Hanya saja, dialog dilakukan dengan bahasa Melayu Betawi bercampur Jawa dan Sunda.

Di Jawa umumnya kesenian wayang kulit berasal, dipelihara dan dikembangkan oleh pihak keraton. lain halnya dengan wayang kulit Betawi, masyarakatnya tidak mengenal bentuk kerajaan secara mantap, maka sisi kerakyatanlah yang menonjol, itulah sebabnya para tetua kampung sudah menjadikan wayang kulit sebagai candu dalam kehidupan bermasyarakat dan hebatnya lagi regenerasi pecinta wayang kulit Tambun tetap berjalan sendiri tanpa di komandoi oleh tetua kampung meski dari kalangan agama, ustadz setempat  misalnya bebarapa kali mengeluarkan pernyataan yang mengecam pagelarang wayang kulit sebagai maksiat sebab ada beberapa oknum pemuda yang menjadikan keramaian pageralaran sebagai ajang mabuk mabukan .
Namun hal itu tidak di gubris oleh para tetua kampung yang telah terlanjur menjadikan wayang kulit Tambun  sebagai media ngaji atau mendalami agama yang telah turun temurun di wariskan oleh leluhur mereka.

Artikel Selanjutnya Klik DISINI atau DISINI