Angkawijaya Pasantren yang hilang .. Babad Tanah Tonjong


Babad Tanah Tonjong

Dusun Angkawijaya atau yang saat ini di kenal Dusun Tonjong terletak di sebelah barat Desa Cipeujeuh Kulon Kec Lemahabang Kabupaten Cirebon, berbatasan langsung dengan Desa Munjul dan Sidamulya Kec Astanajapura, sebelahnya timurnya adalah dusun ini Ranca Badak, Keluarga besar anak cucu Kyiai Dahlan lebih menginginkan nama Angkawijaya atau Kawijaya sebagai media untuk mengingat sejarah dan penghormatan terhadap para leluhur yang pernah mencapai masa kejayaan sebagai tempat pusat keagamaan (pesantren) kurang lebih selama 50 tahun, demikian lah menurut kisah yang di tuturkan oleh salah satu sesepuh saksi sejarah Dusun Angkawijaya, Nyai Masfu’ah.

Kanan - Nyai Masfu'ah
Masih sumber yang sama, Nyai Masfuah adalah putri Kyiai Yusuf bin Kyiai Machful bin Mbah Hussen

Di usianya yang telah mencapai lebih dari 90 tahun beliau menuturkan kisah kisah masal alu yang di alaminya langsung pada tahun 1920 an di Dusun Angkawijaya terkait eksistensi Pesantren Angkawijaya, namun sumber tidak bisa dengan tepat menyebutkan tahun atau keterangan waktu lainya mengingat kondisinya yang sudah sepuh, hanya bisa mengingat tentang para kyiai yang seangkatan atau sering dia jumpai pada masa itu.

Dusun Angkawijaya menurut cerita para orang tua, di Babad atau di buka menjadi pemukiman  oleh Mbah Husen yang berasal dari Cirebon. Mbah Husen memiliki beberapa putra dan putri di antaranya Kyiai Imran yang melahirkan generasi (Alm) Kyiai Syakur dan KH Fathoni yang hingga kini masih aktiv sebagai sesepuh warga Tonjong Kulon putranya yang lain ialah Ky Machful yang menikah dengan Nyai Rufa’ah, Nyai Rufa’ah sendiri adalah putri dari Kyiai Samsudin dan Nyai Habibah, Kyiai Samsudin Adalah putra Tubagus Lebu Haji Abdulloh atau yang di kenal dengan Mbah Abdulloh Lebu pendiri Pondok Pesantren Munjul sementara itu Nyai Habibah ibunda Nyai Rufa’ah adalah putri dari Kyiai Anwarudin Kriyan atau Mbah Buyut Kriyan yang makamnya terletak di pemakaman jabang bayi cirebon

Hijrahnya Kyiai Machful Dan Nyai Rufa’ah Beringin

Di ceritakan Kyiai Imran dan Kyiai Machful seringkali berselisih faham tentang Thorikot yang di anut masing masing, Kyiai Imran sebagai pengamal Thorikot Qodiriah sementara Kyiai Machful Thorikot Tijaniyah sehingga membuat pihak Kyiai Machful sering kali mengalah sebagai anak tertua, ikhwal ini pun sampai pada Kyiai Munjul yang pada zaman itu masih ada ialah Kyiai Khozin Kyiai Toni, Kyiai Syarif, Kyiai Duri yang secara kebetulan juga ada beberapa perwakilan dari warga desa Beringin yang meminta kepada Kyiai Munjul agar di kirim seorang Kyiai untuk syiar agama di Desa Beringin yang letaknya sebelah timur desa japura sehingga atas saran Kyiai Munjul dan untuk menghentikan perselisihan faham akhirnya Kyiai Machful dan Nyai Rufa’ah hijrah untuk syiar menuju Beringin serta menetap di sana yang sudah di berikan tanah dan sawah oleh warga setempat

Pesantren Angkawijaya

Sementara itu Kyiai Dahlan putra Kyiai Masbunaim yang makamnya terletak di dalam komplek makam keramat Mbah Muqoyyim  ( Pendiri Buntet Pesantren ), bersama dengan Nyai Lumut ( istriya ) membangun sebuah tajug kecil yang beberapa tahun kemudian menjadi pesantren Angkawijaya .
Mushola Angkawijaya

Keluarga besar Kyiai Dahlan seluruhnya adalah pengamal Thorikot Tijaniah mengikuti para Kyiai Buntet, Munjul ( Sebelum munculnya Abah Umar dengan Ngaji Syahadatnya ) dan Pesantren Gedongan, Pesantren Angkawijaya telah ada sejak Akhir Abad 18 atau kurang lebih 1890an
Kyiai Dahlan sebagai pendirinya yang di lanjutkan oleh putra pertamanya dan di bantu oleh saudaranya Kyiai Khudori yang ikut bersama ayahandanya ( Kyiai Dahlan ) pergi menunaikan ibadah haji di saat usianya baru delapan tahun .

Kyiai Hudori selain alim juga di kenal orang yang fasih berbahasa arab bahkan sering di minta kehadiranya oleh Kyiai Mustamid Abbas ketika Buntet Pesantren kedatangan tamu dari arab.

Karomah Kyiai Dahlan

Kyiai Dahlan selain pendiri pesantren juga sebagai pengamal Thorikot Tijaniyah dan sering kali di datangi para pejuang, warga yang bersembunyi dari kejaran tentara belanda, konon pernah suatu ketika para kerabat dan warga serta pejuang kemerdekaan sengaja datang untuk meminta perlindungan Kyiai Dahlan dengan karomahnya mampu mengubah Pesantren Angkawijaya menjadi lautan ketika tentara belanda datang dari arah selatan di posisi dataran yang lebih tinggi ketika tentara belanda akan masuk ke komplek pesantren angkawiajaya mendadak menjadi lautan

Pesantren angkawijaya dahulu sebelum pemekaran masih bernama Cipeujeuh yang kondisi alamnya masih di penuhi hutan nangka, hutan melinjo sehingga suasana sunyi sepi dan jauh dari keramaian, konon ketika para tamu dari munjul dan buntet pesantren bersilaturahmi menggunakan delman/andong para tamu tersebut harus menempuh perjalanan dengan jalan kaki sementara delman hanya bisa mengantarkan sampai dusun kiwiar.

Para santri yang belajar di pesantren angkawijaya berasal dari kali salak, kalibuntu, prupug losari, kalipasung gebang, tegal, petanggungan hingga bumi ayu dan beberapa daerah lainya.

Selain belajar mengerjakan amaliah Thorikot Tijaniyah para santri juga belajar tulis menulis aksara arab yang di bimbing oleh Kyiai Khudori putra pertama Kyiai Dahlan

Angkawijaya Mulai Di Tinggalkan Santrinya

Eksistensi pesantren menurut Nyai Masfuah kurang lebih selama 50 tahun semenjak kepemimpinan Kyiai Dahlan oleh karena beberapa sebab di antaranya adalah ketika para santri di ajak bersilaturahmi oleh para Nyai menuju Munjul Pesantren, para santri yang tertarik dengan Pesantren Munjul dan Buntet karena lebih ramai oleh santri santri lain akhirnya beberapa santri memutuskan untuk pindah nyantri ke Munjul dan Buntet Pesantren mengingat kondisi lingkungan di angkawijaya yang sepi .

Hal lain yang membuat pesantren menjadi sepi adalah ketika munculnya Abah Umar Panguragan dengan ngaji syahadatnya yang sepeninggal Kyiai Dahlan para Kyiai Angkawijaya mendapat hidayat untuk berba’iat syahadat kepada Abah Umar Panguragan, akibat dari perpindahan keyakinan dari yang semula Thorikot Tijaniyah kemudian masuk menjadi pengamal Syahadatain berimbas pada putusnya hubungan silaturahmi yang sering kali juga di ejek (di poyoki dalam bahasa cirebon) oleh oknum Kyiai Buntet, karena para Kyiai Buntet pada saat itu tidak meridho’i keinginan Kyiai Khudori ikut berba’iat syahadat kepada Abah Umar.

Pernah suatu hari sesuai yang di ceritakan oleh almarhumah Nyai Khannah Binti Kyiai Usman Gedongan istri dari Kyiai Khudori setelah berba’iatnya Kyiai Hudori kepada abah umar bersilaturahmi ke salah satu kediaman kyiai buntet pesantren (nama oknum kyiai sengaja tidak di sebutkan) setelah di hina dan di maki di anggap Kyiai hudori sebagai kyiai yang edan karena mau maunya belajar sama abah umar yang notabenenya juga salah satu alumni buntet pesantren yang pada masa nyantri di buntet pesantren abah umar terkenal  sering menghabiskan waktunya di kali buntet pesantren, ketika Kyiai Khudori pamit hendak pulang sketika itu juga tempat yang di duduki oleh kyiai hudori di siram dengan air oleh oknum Kyiai Buntet tersebut karna di anggap najis .

Akibat dari berba’iat syahadat nya Kyiai Khudori kepada abah umar, Kyiai Khudori bukan hanya mendapat cibiran dan ejekan tepai juga di kucilkan oleh komunitas lamanya ( sesama kyiai dari buntet dan pesantren gedongan ) akhirnya  juga berimbas pada penilaian masyarakat dan santri yang terlanjur mengikuti para kyiai yang tidak senang dengan ajaran abah umar menjadikan satu persatu santri hijrah dan sampai pada titik terendah pesantren angkawijaya hanya tinggal nama.

Wafatnya para Kyiai yang ikut membantu perjuangan Kyiai Dahlan serta hijrah beberapa Kyiai membuat angkawijaya semakin sepi

Pesantren angkawijaya yang kini hanya menyiskan sebuah mushola masih menjadi tempat pusat syiar agama islam bagi lingkungan setempat dan para anak cucu kyiai dahlan masih eksis dalam kegiatan kegamaan dengan ruang lingkup masing masing dan masih berpegang teguh pada tuntunan ahlu sunnah wal jamaah dengan cara atau tuntunan yang di ajarkan guru syahadat abah umar.



Wafatnya Kyiai Khudori
Pada awal tahun 1989 beberapa bulan setelah kelahiran cicit keduanya yang beliau sempat memberikan nama kepada putra dari cucu tertuanya Kyiai Khudori wafat pada dini hari sekitar jam 2 malam dan di kebumikan di pemakaman keluarga bersama dengan Kyiai dahlan, Mbah Husen, Kyiai Imran, Kyiai Maskam, Nyai Soroh Serta seluruh keluarga besar angkawijaya .

Pada sore hari sebelum meninggal sepeti yang di ceritakan oleh Jamal ketua RT setempat secara tidak sengaja bertemu dengan Kyiai Khudori dan di panggil untuk menemani Kyiai Khudoir mencari serumping ( Pelebah bambu untuk membuat api di tungku ), sambil mencari Kyiai Khudori berkata kepada  jamal bahwa Rezekinya sudah tinggal tenggorokan, (  Rizki usianya telah habis )

Kemudian tengah malam atau dini hari setelah kejadian itu Kyiai Khudori wafat di mana di saksikan oleh salah satu warga tonjong kulon yang masih terjaga melihat keramaian di kediaman Kyiai Khudori dan menyaksikan beberapa Ulama Seperti Abah Umar, Kyiai Khozin ( yang sudah wafat sebelumnya ) datang beserta rombongan menggunakan jubah sorban putih lengkap hadir ( menjemput ) Kyiai Khudori

Beberapa Kyiai yang juga ikut menjadi bagian dari pesantren angkawijaya di antaranya Kyiai Nachrowi, Kyiai Maskam, Kyiai Faedi ( Menantu Kyiai Dahlan ), Kyiai Shokheh yang kemudian hijrah bersama istrinya ( Nyai Mu’minah ) menuju desa bondan kecamatan sukagumiwang indramayu untuk syiar agama di desa itu, anak cucu Kyiai Shokheh dan Nyai Mu’minah yang tergabung Dalam Forum Komunikasi Keluarga Bani Bondan telah rutin mengadakan Haul Kyiai Sokheh tiap dua tahun sekali di desa bondan indramayu

Berikut ini adalah Putra Putri Kyiai  Dahlan

Kyiai Dahlan Bin Kyiai Masbunaim menikah dengan Nyai Lumut ( binti Kyiai Thohir Buntet Pesantren )

Kyai Khudori menikah dengan Nyai Khannah binti Kyiai Usman Gedongan menetap dan wafat di angkawijaya

Ny Zaetun menikah dengan Kyiai Yusuf Bin Kyiai Machful (kedua orang tua Nyai Masfu’ah sendiri)
Kyiai Ma’ani menikah dengan Nyai Durroh dan menetap di Buntet Pesantren
Nyai Tuba menikah dengan Kyiai Nawir Bin Kyiai Usman Gedongan ( kakak dari Nyai Khannah ) menetap dan meninggal di Karang Sembung,
Kyiai Ma’sum ( Majalengka )
Nyai Nenah menikah dengan Kyiai Faedi ,
Kyiai Misbach ( suami dari Nyai Akifah buntet pesantren ) dan
Kyiai Asnawi Munjul Pesantren

Putra Putri Kyiai Khudori Nyai Khannah
Nyai Khafsah Menikah dengan ( Alm ) KH.Agus Salim dan menetap di buntet pesantren
Abdul Kholiq menetap di dusun dukuh kapetakan karang kendal ayahanda Aan Asiyah

Putra Putri Kyiai Machful dan Nyai Rufa’ah Beringin
Kyiai Yusuf,Kyiai Ahmad Beringin, Kyiai Yasin Penpen,Kyiai Dul Karim Gebang,Nyai Timah Tanjung,Nyai Muna’ah Bangkelor Karangsembung ,Nyai Mu’minah Bondan,Nyai Isah Cipeujueh,Nyai Sinah
.
Catatan * Kyiai Maskam suami dari Nyai Soroh, Nyai Soroh adalah Adik dari Kyiai Sokheh Bondan       Putra dari Kyiai Muhammad Arif
*Kyiai Maskam adalah ayah dari Kyiai Suja’i yang Menikah dengan Nyai Khasanah
*Mbah Husen Tonjong/Kawijaya adalah leluhur seluruh anggota FSKBB bondan indramayu dan keluarga besar Beringin





0 Comments