Opini : Sabtu 29/12 sore hari tepat pukul 15.30 WIB di halaman Gedung Kesenian Rarasantang Kota Cirebon, saya memenuhi undangan dari GEMPA. Organisasi pemuda Jamaah Asysyahadatain berbasis mahasiswa yang saya dirikan bersama dengan beberapa sahabat aktivis pada 2016. Sedikitnya sekitar 10 anggota baru hadir, sebagai program kaderisasi oleh pengurus GEMPA saat ini yang dinakhkodai oleh Nanang Fathurrohman.

Untuk pertama kalinya, sejak didirikan, GEMPA melakukan ikhtiar untuk menghidupkan roda organisasi melalui mekanisme kaderisasi dengan istilah PAB oleh Nanang. Nanang sendiri merupakan ketua umum periode kedua menggantikan Wahadi yang telah usai masa jabatannya.

PAB GEMPA 2018 di Gedung Kesenian  Rarasantang

Melalui momentum tersebut, saya berkesempatan berbagi cerita tentang latar belakang pendirian, proses - proses dibalik lahirnya GEMPA dan beberapa cita - cita tentang kebersatuan Jamaah Asysyahadatain yang sebelumnya diperjuangkan melalui BMA dan DPD JAI Kota Cirebon.

Silaturahmi dan Diskusi untuk Memecahkan Masalah


Pengamal Jamaah Asysyahadatain diberbagai daerah belum bisa membedakan antara pemimpin spiritual dan pemimpin organisasi, pusat spiritual dan pusat organisasi. Belum lagi dengan rumitnya persoalan internal, SDM yang belum merata dari sisi intelektual dan semangat dalam bersinergi untuk kemajuan bersama. Mahasiswa, diharapkan menjadi penggerak, membuang jauh apatisme, mengasah intelektualitas, membangun jiwa sosial serta dapat bertanggung jawab terhadap keyakinan yang dianutnya. 

Berbagai persoalan yang saya paparkan menjadi bekal bari anggota baru GEMPA untuk turut serta berkontribusi melalui berbagai cara yang sepatutnya dilakukan oleh mahasiswa adalah sebuah keniscayaan. PAB menjadi wahana Mahasiswa Asysyahadatain untuk mulai membuka wawasan tentang pentingnya ibadah sosial sebagai implementasi dari segala kebaikan dan nikmat atas identitas dan kewajiban sebagai Jamaah Asysyahadatain.